Pernikahan di masa pandemi Covid 19

Pernikahan adalah hal sakral yang perlu dipahami secara aturan dan adat masing-masing daerah, dipenikahan juga kita harus memiliki ilmu yang matang untuk menuju kehidupan yang baru dengan lembaran baru bersama pasangan kita.


    
Inilah yang gue rasakan, serius deh ini pengalaman pribadi sekaligus pengalaman seumur hidup gue bersama pasangan, guen menikah dimasa pandemi Covid 19 yang sedang booming dan hangat-hangatnya
di perbincangkan dalam negeri maupun luar negeri. Ya, sebut aja ini masalah global sampe-sampe wabahnya melibatkan seluruh dunia.

     Pernikahan di masa pandemi ini yang kita tau pasti ada plusnya seperti menghemat biaya resepsi yang bisa mencapai 50jt-an bahkan 100jt-an disesuaikan dengan adat masing-masing daerah. Dan minusnya tidak banyak krabat, teman-teman dan bahkan saudara yang bisa diundang semua. Sangat menyedihkan ketika kita merencanakan sesuatu tetapi tidak sesuai dengan harapan.

     Untungnya support dari orang tua dan keluarga menguatkan rencana dan keinginan hati ini, karna jujur selama kita berdua pacara selalu saja digerutuki oleh kegelisahan. Karna gue sendiri orangnya penakut. Takut nggak dan takut mengecewakan.

     Waktu gue konsultasi ke KUA (kantor Urusan Agama) mengenai pernikahan gue ini bapak ketua hanya titik pesan maksimal dalam ruangan akad hanya 20org untuk menyaksikan. Gue mikir hanya 20org yang diundang ternyata masih boleh beberapa.

Suasana pandemi covid 19 ini membuat pernikahan gue ini ala protokol kesehatan, persis banget kaya lagi diruang bedah atau ruang operasi semuanya menggunakan masker bahkan ada yang menggunakan face shield dan sarung tangan. Sedih sih sebenarnya melihat suasana acara sakral gue diselimuti kegelisahan karna penyakit ini. Tapi lagi-lagi apa boleh buat karna ini peraturan yang harus dijalani dan ditaati.

     Yang membuat gue deg-degan adalah suasana dimana rombongan pengantar gue yang bisa dibilang cukup banyak karna saking antusiasnya ingin mengantarkan gue menuju meja akad, senang campur sedih itu gimana gitu, gue hanya bisa berdzikir agar nggak ada kendala sampai akhir acara. Rombongan hadroh membacakan sholawat membuat seluruh tubuh gue merinding kalau dibilang kenapa gue hanya bilang inilah rasanya menjadi pengantin pria berjalan menemui wanita pujaannya. Walaupun gue udah pacaran sama dia 2 tahun tapi tetap aja rasanya kaya baru mau jadian hehe...

     Mata gue sebenarnya berkaca-kaca karna berjalan menemui calon orang tua(mertua) dan gue hanya bilang ini orang tua kedua gue dimana gue harus sama hormatnya sama orang tua. Setelah sampai digandenglah gue menuju meja akad, agak kaku sih dan canggung perasaan gue.

-    bersambung


(yang mau dilanjutin ceritanya koment ya!^^)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SECRET PAPER (Love story in the School)

Cuplikan Drama Pendek "Anto Pemalas”

Pengalaman di Sampit tahun 2000