Pengalaman di Sampit tahun 2000
Kalau menjadi gue kalian pasti akan merasakan hal yang sama, merasakan
trauma yang sama dan merasakan perasaan yang sama.
Pada saat itu umur gue beranjak 5
tahun, bocah kecil yang masih sibuk dengan urusan bermain, belajar menghitung
dan membaca. umuran yang penuh dnegan fantasi imajinasi yang sangat luasl.
Banjarmasin,
Waktu menunjukan jam 17.30 WITA
bapak gue tiba dirumah baru pulang dari kantor merasa gelisah dan kebingungan
karna harus menjelaskan ke mama gue yang sedang nonton TV bersama gue.
Perhatian gue teralihkan pada waktu bapak pulang gue berteriak menghampirinya
karna kesenengan bapak udah pulang.
Lalu bapa bilang dengan nada
halus ke mama kalau kita mau dimutasi ke kota Sampit, letaknyanya kota Waringin
timur, Kalimantan tengah. Seperti biasa seorang perempuan merasakan kesedihan
yang amat sedih karna harus meninggalkan kota yang sudah membesarkannya. Bapak
gue berusaha merayu dengan lembut denganiming-imingan kalau disana difasilitasi
oleh kantor dengan lengkap dan naik jabatan.
Singkat cerita dengan berat hati mama
menerima tawaran itu gue hanya bengong dan bingung mutasi itu apa?, tanya gue
ke bapak. Bapak menjawab gue dengan nada halus, kita akan pindah kerumah yang
lebih besar dan sekolah yang baru diluar kota, gue hanya bisa ngangguk-ngangguk
aja karna belum paham pindah itu gimana-gimananya.
-
bersambung

Komentar
Posting Komentar